3 Hal Penting Untuk Value Investor Saat Pelemahan Rupiah

Ringkasan:

  • Biaya Bahan Baku Lebih Tinggi
  • Biaya Bunga Lebih Tinggi
  • Kualitas Penghasilan Rendah

Industry to Watch: Perbankan, Manufaktur, Farmasi, Perkebunan, dan Pertambangan

Sejak awal 2018, Rupiah telah terdepresiasi sebesar 6%. Dolar AS yang lebih kuat ini bisa berbahaya bagi pergerakan harga saham dan dapat bertindak sebagai “angin ribut” yang signifikan di bursa Indonesia. Dolar yang lebih kuat akan membuat produk AS lebih mahal di luar negeri, dan oleh karena itu, akan memberi dua sinyal untuk Indonesia.

Pertama, barang impor akan terasa lebih mahal, dan kedua, pendapatan ekspor akan meningkat. Ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hal ini dapat menyebabkan perkiraan penghasilan tahun depan berkurang, yang dapat menyebabkan harga saham akan menurun.

Bagi para value investor, kondisi ini (melemahnya rupiah) bisa menyebabkan estimasi arus kas bebas (free cash flow) yang lebih rendah. Dengan arus kas bebas yang lebih rendah, berarti harga saham juga akan menjadi lebih rendah.

Berikut adalah 3 hal penting bagi value investor dalam menyesuaikan kembali target harga saham mereka efek dari melemahnya rupiah.

1. Biaya Bahan Baku Lebih Tinggi

Depresiasi Rupiah berarti bahan baku yang diimpor perusahaan akan semakin mahal.

Barang-barang konsumsi atau perusahaan Manufaktur adalah sektor yang akan terdampak besar akibat hal ini. Dengan harga jual yang relatif sama, COGS (biaya) akan meningkat, dan sebagai hasilnya, margin laba akan lebih rendah.

Contoh kasusnya seperti ini, untuk menghasilkan satu roti, Perusahaan A perlu mengimpor 1 ons Gandum dari AS dengan nilai USD 1. Roti akan dijual seharga Rp 25.000. Dengan asumsi kurs dianggarkan sebesar Rp 13.500 per USD, laba kotor seharusnya Rp 11.500. Namun, karena Rupiah terdepresiasi menjadi Rp 14.500 per USD, laba kotor sekarang hanya 10.500.

Semakin rendah laba kotor karena melemahnya Rupiah, semakin membuat Arus Kas Bebas (free cash flow) lebih Rendah untuk Perusahaan A, oleh karena itu, harga saham tersebut akan menurun.

Industri yang harus diperhatikan investor akibat masalah ini adalah manufaktur dan farmasi. Kedua industri tersebut sangat bergantung pada bahan baku yang diimpor dari luar negeri.

Rupiah yang melemah dapat menghasilkan laba kotor yang lebih rendah untuk industri-industri tersebut karena meningkatnya biaya bahan baku.

Meski begitu, ada beberapa perusahaan yang mungkin tidak terkena dampak besar peningkatan biaya baku, karena pendapatannya juga Dollar. Misalnya saja SRIL dan INDF yang memang bergantung pada Bahan Baku yang diimpor, akan tetapi laporan segmen menunjukkan penjualan mereka yang signifikan dalam denominasi (mata uang) asing. Selain itu, industri Perkebunan dan Pertambangan memiliki prospek pendapatan yang baik karena kegiatan ekspor mereka.

2. Beban Bunga Lebih Tinggi

Perbankan dan Industri Pertambangan biasanya memiliki proporsi utang yang lebih tinggi dalam mata uang asing (karena carry trade). Depresiasi Rupiah akan merugikan utang mata uang asing karena akan membuat pembayaran lebih mahal. Bayangkan jika biaya bunga Anda adalah USD 1 juta, itu setara Rp 13,5 miliar (untuk kurs Rp 13,500 per dollar). Ketika rupiah melemah ke Rp 14.500 per USD, Anda harus membayar ekstra Rp 1 miliar. Tambahan ini berarti menurunkan arus kas bebas, dan memiliki efek penurunan harga saham.

3. Kualitas Pendapatan yang Rendah

Tingkat kualitas pendapatan yang rendah biasanya akan mengikuti melemahnya Rupiah. Ada dua catatan untuk hal ini. Pertama adalah efek pada laba bersih riil, yang akan mempengaruhi arus kas bebas (free cash flow).

Sebagian besar value investor akan membandingkan laba bersih perusahaan tahun-ke-tahun sebagai indikator kinerja suatu perusahaan. Namun, seringkali dilupakan bahwa laba bersih bukan merupakan dasar yang kuat untuk indikator fundamental, terutama ketika rupiah terdepresiasi.

Pelemahan Rupiah dapat mempengaruhi laba bersih melalui akun “Keuntungan / Kerugian Lainnya”. Kasus TBLA pada tahun 2007, atau BDMN, INAF, dan KAEF adalah contoh yang baik bagaimana transaksi valuta asing dapat merugikan laba bersih.

Namun, value investor harus ingat bahwa pelemahan Rupiah adalah peristiwa “musiman”. Ini dapat melukai aliran kas bebas tahun depan, tetapi itu tidak mencerminkan kinerja pendapatan yang sebenarnya. Ini adalah salah satu alasan mengapa para analis lebih suka menggunakan EBIT atau EBITDA sebagai indikator kinerja.

Hal penting lain yang harus diperhatikan oleh value investor adalah kualitas laba.

Dalam konsep akuntansi, keuntungan dan kerugian valuta asing dapat terjadi karena transaksi dalam mata uang asing. Transaksi dalam mata uang asing adalah denominasi atau penyelesaian yang diperlukan dalam mata uang asing. Penyesuaian translasi kumulatif atas aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dapat diidentifikasi dari tanggal neraca dan dari rugi laba yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing yang dibebankan ke laba rugi dalam periode tertentu.

Ketika Rupiah terdepresiasi terhadap mata uang asing, tetapi manajemen masih ingin mempertahankan pencapaian target laba, mereka dapat meningkatkan aset moneter untuk meningkatkan pendapatan valuta asing. Ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kas dan setara kas, dan penjualan dalam mata uang asing.

Manajemen juga dapat mengurangi kerugian selisih kurs dengan menetapkan kewajiban moneter, seperti utang dagang, utang bank baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Manajemen laba dengan kerugian valuta asing juga dapat dilakukan dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang ditetapkan dalam Standar Akuntansi Indonesia (PSAK) No. 26 yang menyatakan bahwa biaya pinjaman yang dapat diatribusikan secara langsung dengan akuisisi, konstruksi atau produksi aset tertentu harus dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan Aset Tertentu.

Selisih kurs valuta asing atas pinjaman dalam mata uang asing merupakan salah satu biaya pinjaman sebagaimana didefinisikan dalam PSAK ini. Peraturan ini merupakan peluang bagi manajer untuk memanfaatkan kerugian selisih kurs.

Manajer dapat mempengaruhi nilai kerugian selisih kurs dikapitalisasi dengan meningkatkan nilai kerugian selisih kurs atau memperpanjang periode kapitalisasi.

Value investor mungkin akan melihat tingkat pendapatan yang baik di kinerja emiten tahun depan. Namun, pendapatan tersebut sebenarnya menunjukkan kualitas laba yang rendah karena manajemen laba.

Dengan kata lain, pelemahan rupiah merupakan sentimen yang dapat digunakan oleh investor untuk mengevaluasi kinerja emiten di bursa. Apakah sentimen ini dapat berdampak langsung terhadap turunnya laba perusahaan (akibat naiknya biaya operasi), atau malah mendapatkan keuntungan insidentil akibat penjualan perusahaan yang dilakukan dalam dolar.

Disclaimer: ON

 

Artikel ini ditulis oleh Rayendra, Technical Advisor BigAlpha.id

 

BigAlpha menerbitkan e-book kuartalan yang berisi analisa 20 emiten yang kami anggap undervalue. Anda bisa mendapatkannya dengan mengklik tautan berikut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *