Keunggulan dan Kelemahan Value Investing

Sudah sejak lama, value investing menjadi salah satu teknik investasi yang paling populer di dunia. Bagaimana tidak, salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, berhasil meraih kekayaannya dari metode ini. Teknik ini telah teruji di pasar modal selama puluhan tahun.

Teknik investasi ini juga yang berusaha kami adopsi di Big Alpha.

Secara sederhana, value investing adalah metode investasi membeli instrumen investasi (dalam hal ini saham) di harga yang murah, lalu menjualnya di harga wajarnya. Value investing berusaha untuk menemukan saham-saham ‘salah harga’ yang ada di pasar lalu menjualnya ketika pasar sudah ‘sadar’ dan saham tersebut sudah kembali ke level harga normalnya.

Patut digarisbawahi, murah disini bukan hanya dilihat dari nominalnya saja, tetapi juga dari value saham tersebut dibandingkan dengan indikator-indikator lain seperti laba atau nilai buku perusahaan.

Di Indonesia sendiri, ada banyak yang sudah menerapkan metode ini. Mulai dari investor individual hingga layanan berbayar yang menjanjikan kaya mendadak atau bahkan profit puluhan hingga ratusan persen dalam beberapa bulan.

But let’s be honest here.

Kita harus menyadari kalau value investing bukanlah cara cepat meraih keuntungan di pasar modal. Bukan pula sebuah formula ajaib yang bisa mendatangkan kekayaan dalam waktu singkat. Seperti teknik investasi lain, value investing juga punya keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

Big Alpha akan membantu menjelaskannya agar anda tau apakah teknik investasi yang kami terapkan di setiap analisa kami ini cocok untuk anda.

Kita mulai dari keunggulannya:

  1. Value Investing bukan hanya teknik yang bisa digunakan oleh orang super kaya. Siapa pun bisa menggunakan teknik investasi ini. Tidak perlu bermodal milyaran rupiah, value investing bahkan bisa digunakan oleh orang-orang yang memiliki dana investasi terbatas. Selama orang tersebut mau membaca dan belajar mengerti kondisi fundamental sebuah perusahaan, maka value investing bisa dimengerti dan diterapkan oleh siapa saja.
  2. Value investing dapat memaksimalkan ‘the power of compounding’. Agak sulit menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata ‘compounding’. Pada dasarnya, adalah ‘compounding‘ adalah kemampuan investasi untuk berlipat ganda atau istilahnya ‘bunga berbunga’. Seiring berjalannya waktu, investasi akan bertumbuh secara eksponensial akibat pertumbuhan harga saham dan dividen yang dibagikan. Hence, it’s called compounding.
  3. Sudah teruji oleh waktu. Value investing sudah digunakan oleh Warren Buffet selama puluhan tahun. Dan dia bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan menggunakan metode investasi ini. Dan sudah sewajarnya jika kita mengganggap hal ini terbukti untuk diterapkan, bukan?
  4. Cenderung memiliki risiko lebih rendah. Untuk memaksimalkan value yang bisa didapat, value investing sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang. Oleh karena itu, investor bisa terhindar dari fluktuasi pasar yang terjadi dalam jangka pendek.

Lalu kita berlanjut ke kelemahannya.

  1. Memaksa seseorang untuk memiliki mindset investor. Value investing mungkin tidak cocok untuk seseorang yang memiliki mindset trader jangka pendek. Fluktuasi pasar dalam timeframe yang lebih kecil, membuat seseorang cenderung mengambil keputusan secara emosional ketimbang rasional. Hal ini tentu berlawanan dengan prinsip value investing itu sendiri. Oleh karena itu, value investing dapat memberikan return yang optimal jika dilakukan dalam jangka panjang. Warren Buffet bahkan pernah bilang: “Our favorite holding period is forever”.
  2. Membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Hasil dari value investing terkadang baru bisa dilihat dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk beberapa orang, hal ini bisa menjadi sebuah kesulitan tersendiri mengingat ada investor yang memiliki target return yang harus dicapai. Sometimes waiting for your investment to grow is not a pleasant process.
  1. Intrinsic value yang sulit diukur. Intrinsic value adalah nilai sebenarnya terkandung dari sebuah saham yang kita beli. Atau dalam bahasa sederhananya nilai wajar. Terkadang, penentuan dari intrinsic value ini sulit diukur. Apalagi dengan penggunaan metode yang berbeda-beda dari setiap investor. Cara pengukuran ini sangat bergantung dari informasi yang tersedia dan dapat diakses oleh investor tersebut. Investor A mungkin menganalisa menggunakan data A,B,C sedangkan Investor B menggunakan data X,Y,Z.
  2. Historical valuation. Salah satu alat dalam menggunakan metode value investing adalah laporan keuangan. Dan laporan keuangan sebuah perusahaan disusun berdasarkan kinerja historical alias kinerja masa lalu si perusahaan. Kinerja masa lalu tidak selalu menjamin kinerja masa depan. Ada hal-hal yang hanya bisa diukur oleh estimasi dari manajemen. Misalnya : pergerakan harga acuan batubara dunia yang tidak bisa dikontrol oleh perusahaan batubara. Hal ini hanya bisa diestimasi dan dijelaskan dalam laporan keuangan.

Pada dasarnya, value investing hanya satu dari sekian banyak metode investasi yang tersedia untuk anda di pasar modal. Mengerti kelemahan dan kekurangannya, sudah menjadikan anda satu langkah lebih depan dalam memulai investasi anda.

Tapi apapun metode yang digunakan, kita bisa sepakat kalau investasi harus dilakukan oleh semua orang.

 

PS : Kami menyusun sebuah e-book yang berisi 20 emiten yang kami anggap undervalue yang ditulis menggunakan kaidah value investing. Anda bisa mendapatkannya di tautan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *