PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

Sudah beberapa hari ini, IHSG dilanda aksi ambil untung besar-besaran. Dalam enam hari berturut-turut, IHSG selalu ditutup memerah.

Hari ini (20/03/18), IHSG ditutup melemah 0.73% ke 6.266.58. Posisi ini sudah jauh meninggalkan puncak tertingginya di bulan Februari kemarin di level 6.689,28 poin, yang juga merupakan puncak tertinggi IHSG sepanjang sejarah.

Seperti yang sudah-sudah, kami di BigAlpha selalu berusaha menjadi rational investor dan mencari tau kenapa hal ini bisa terjadi.

Kenapa IHSG turun terus-terusan di bulan Maret ini? Apakah sudah benar-benar gejala krisis? Apakah ekonomi Indonesia secara garis besar sudah benar-benar memburuk?

Dan sama seperti yang sebelumnya, kami sama sekali tidak menemukan gejala ke arah sana. Seperti yang sudah kami jelaskan di beberapa tulisan di website ini, penyebab turunnya IHSG adalah adanya munculnya sentimen-sentimen dari luar seperti kemungkinan naiknya tingkat suku bunga oleh The Fed, melemahnya nilai tukar rupiah, dan sentimen DMO batubara yang sudah kami jelaskan sebelumnya.

Kalau pun ada yang sedikit berbeda dalam minggu ini adalah, melemahnya Dow Jones yang dipicu oleh penurunan saham-saham teknologi yang bermula dari skandal Cambridge Analytica di Facebook. Secara sederhana, skandal Cambridge Analytica ini adalah kebocoran data sekitar 50 juta pengguna Facebook yang digunakan oleh pihak swasta mempelajari pola pengguna Facebook untuk digunakan pada pemilu presiden di Amerika tahun 2016 yang lalu.

Pun begitu, hal ini tidak ada sangkut pautnya buat Indonesia. Namun tetap saja, IHSG rontok dilanda aksi ambil untung.

Saat ini kami malah melihat penurunan IHSG ini sebagai peluang untuk membeli saham-saham bagus di harga murah. Dan salah satu saham yang kami maksud kali ini adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Rasanya kami tidak perlu panjang lebar menjelaskan profil TLKM ini. Secara singkatnya, TLKM adalah satu BUMN kebanggaan Indonesia yang bergerak di bidang telekomunikasi dan digital.

TLKM sudah masuk sebagai saham grade A di bursa Indonesia, di mana dia juga masuk dalam daftar saham-saham LQ45 yang berisi 45 saham paling likuid yang ada di bursa. TLKM juga digolongkan dalam saham lapis pertama (bluechips) yang sering menjadi andalan banyak manager investasi.

Sejak awal tahun 2018 (atau istilahnya year to date – YTD), TLKM sudah jatuh sekitar 20% dari 4400an ke level saat ini yang berada di 3660 per lembar sahamnya.

Padahal, laporan keuangan TLKM masih tetap bersinar seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2017, TLKM berhasil mencetak laba sebesar Rp22.14 triliun, naik dari laba mereka di 2016 sebesar Rp19.35 triliun.

Meskipun pertumbuhan laba mereka di tahun 2017 (14.43%) tidak sebesar pertumbuhan laba tahun 2016 (24.94%), angka ini masih lebih baik dari tahun 2015 dan 2014 dimana pertumbuhan laba TLKM cuma bisa naik single digit.

Pertumbuhan pendapatan & laba bersih

Net Profit Margin TLKM juga masih double digit di level 17.25%. Dan Return On Equity (ROE) mereka masih bagus di angka 19.74%.

Satu-satunya sentimen negatif untuk TLKM yang bisa kami temukan adalah masalah registrasi kartu prabayar yang diwarnai penolakan beberapa elemen masyarakat beberapa saat yang lalu. Tapi hal ini pun tidak terasa signifikan dan respon masyarakat kami nilai berlebihan.

Toh ketentuan registrasi kartu prabayar ini tidak hanya berlaku untuk TLKM, tetapi juga provider telekomunikasi lain. Dan rasanya tidak mungkin orang-orang akan melepas kartu prabayar mereka hanya karena malas untuk registrasi nomor mereka.

Jadi saat ini malah terjadi sebuah anomali di saham TLKM, labanya naik terus tetapi harga sahamnya turun.

TLKM terakhir berada di level serendah ini terjadi hampir dua tahun yang lalu, di pertengahan tahun 2016. Sejak saat itu, harga TLKM terus menanjak hingga menyentuh level 4800an pertengahan tahun 2017 lalu.

Sekarang di harga 3660, TLKM diperdagangkan dengan P/E ratio 16.64x. Level ini tentu jauh lebih tinggi dari P/E ratio saham-saham yang biasanya kami kategorikan undervalue (P/E ratio di bawah 7x).

Tapi ingat, yang sedang kita bicarakan saat ini adalah TLKM, sebuah saham grade A yang biasanya diperdagangkan dengan P/E ratio di level 20x atau lebih.

Tentu saja harga TLKM di 3660 terlalu menarik untuk dilewatkan.

Reputasi perusahaan yang terjamin, likuiditas saham yang sangat lancar, dan laba yang terus menanjak menjadi jaminan buat kita yang ingin membeli saham TLKM. Dengan saat semua indikator itu, harusnya harga TLKM terus menanjak. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, saat ini harga TLKM malah sedang diobral murah.

Kami juga melihat TLKM mulai bertransformasi dari perusahaan telekomunikasi menjadi perusahaan digital. Hal ini terlihat dari lini bisnis TLKM yang menyumbang pendapatan terbesar adalah segmen data, internet dan IT Service.

Lini bisnis tradisional TLKM seperti voice dan SMS malah turun sebagai penyumbang pendapatan TLKM. Hal ini sebenarnya sejalan dengan pesatnya pertumbuhan digital dan penetrasi pengguna smartphone di Indonesia. Orang-orang mulai meninggalkan telpon berbayar mengingat banyaknya aplikasi voice call dan video call seperti Whatsapp dan Line.

Apalagi belakangan, TLKM juga merambah dunia e-money dengan fitur T-Cash yang dimiliki anak perusahaannya, Telkomsel.

Bisa dibilang, masa depan TLKM masih sangat cerah!

Jadi untuk anda yang ingin mencari saham bintang lima, risiko rendah namun menjanjikan peluang kenaikan yang lumayan, TLKM bisa jadi pilihannya. Untuk mencapai level tertingginya di 2017 saja (Rp4400), TLKM sudah bisa memberikan laba sekitar 20% dari posisinya saat ini.

Tentu ada banyak saham di luar sana yang bisa memberikan profit lebih tinggi dari ini, tapi dengan risiko serendah TLKM, rasanya akan sulit untuk menemukannya.

 

PS : BigAlpha menjual e-book kuartalan berisi 20 emiten undervalue yang dibahas seperti tulisan ini. Anda bisa mendapatkannya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *