IHSG Rontok, Rupiah Melemah dan Kebijakan DMO

Saat artikel ini ditulis, market sudah ditutup dengan kondisi yang berdarah-darah.

IHSG terjun 131 poin atau sekitar 2% dan posisi semula. Lumayan bikin deg-degan untuk investor pemula yang baru berkecimpung di pasar modal.

IHSG Jatuh!

Tapi kami, yang ingin menjadi sahabat investasi anda di pasar modal, semacam punya kewajiban moral untuk menjelaskan kondisi pasar sesungguhnya.

Harapannya, artikel ini bisa menjadi penenang untuk kita dalam berinvestasi, dan menjadikan kita satu langkah lebih dekat untuk menjadi investor yang rasional. Tulisan ini diharapkan menjadi semacam market update bagi investor pemula terutama para pembeli e-book kuartalan BigAlpha.

Sebenarnya tidak perlu ada alasan untuk khawatir berlebihan. Seperti yang sudah kami jelaskan di artikel ini, kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja. Krisis ekonomi masih terlalu jauh untuk bisa terjadi saat ini. Semua indikator ekonomi makro Indonesia masih terlihat sehat.

Satu hal yang perlu Alpha Investor mengerti, krisis ekonomi bukanlah hal yang bisa terjadi tiba-tiba.

Bayangkan saja proses terjadinya hujan, tidak mungkin bukan, turun hujan tanpa ada mendung, angin yang lebih kencang, udara yang lebih dingin, dll? Begitu juga dengan krisis ekonomi. Butuh ada gejala-gejala yang mengarah ke sana sebelum akhirnya benar-benar ambruk.

Oke, kembali ke alasannya sesungguhnya.

IHSG ikut terseret jatuh akibat sentimen negatif dari negara paman Sam. Dow Jones ditutup merah akibat isu perang tarif yang digagas oleh Donald Trump. Trump ingin mengenakan tarif tambahan kepada aluminium dan baja yang masuk ke USA sebagai bentuk proteksi industri baja di Amerika.

Kebijakan ini direspon negatif oleh mitra dagang USA yang juga berencana mengenakan tarif tambahan ke produk-produk Amerika sebagai balasan.

Akhirnya, perang tarif ini tidak hanya berlaku ke aluminium dan baja saja, tetapi juga akhirnya merembet ke barang-barang yang lain.

Kebijakan ini tentu saja tidak disukai oleh pasar.

Hal ini diperparah dengan keluarnya salah satu advisor ekonomi utama Gedung Putih dari pemerintahan, yang mencerminkan turunnya rasa percaya investor ke pemerintahan Trump.

Itu penyebab utama turunnya bursa kita hari ini.

Tetapi juga ada beberapa sentimen dari dalam negeri lain yang tidak bisa kita abaikan.

Nilai rupiah belakangan ini mulai melemah dibandingkan dengan US dolar. Hal ini terjadi karena ada kemungkinan naiknya tingkat suku bunga di US. Efeknya, para pemegang obligasi Indonesia melepas posisinya untuk menemukan imbal hasil yang lebih baik di US sana.

Inilah yang kami maksud kenapa orang Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Agar tidak lagi terjadi penurunan bursa dan kondisi ekonomi di negara kita akibat kebijakan ekonomi negara lain.

Sentimen lain yang bisa dipertimbangkan adalah keluarnya peraturan DMO (Domestic Market Obligation) perusahaan-perusahaan batubara. Jika diperhatikan, sektor yang jatuh paling berdarah-darah hari ini (7 Maret 2018) adalah sektor pertambangan batubara.

Seperti kita ketahui bersama, beberapa bulan terakhir, harga acuan batubara masih terus menanjak.

Hal ini harusnya menjadi sentimen positif untuk emiten-emiten batubara. Tetapi, muncul satu peraturan pemerintah untuk menjaga harga jual batubara dalam negeri. Hal ini disebabkan karena salah satu pembeli utamanya, PLN, harus menjaga agar tarif listrik tidak naik.

Jika harga batubara yang menjadi sumber utama tenaga pembangkit listrik PLN tinggi, maka ditakutkan harga jual listrik ke masyarakat juga akan naik. Oleh karena itu pemerintah melalui Kementrian ESDM menetapkan kebijakan DMO ini.

Harga DMO yang akan ditetapkan pemerintah berkisar antara $60-$70 per metric ton. Harga tersebut berada di bawah harga pasar batubara yang saat ini sudah di atas $100 per metric ton.

Sebenarnya, hal ini bisa diakali dengan memilih perusahaan-perusahaan batubara yang berorientasi ekspor. Yakni perusahaan-perusahaan yang tidak akan terlalu terpengaruh oleh kebijakan DMO ini.

Tapi kenapa harga saham mereka juga turun?

BigAlpha berpendapat hal ini hanya timing difference saja. Harga sahamnya turun disebabkan oleh ketidakpastian yang beredar mengenai peraturan DMO ini. Pada dasarnya, investor di pasar modal sangat tidak menyukai ketidakpastian. Belum jelasnya dampak DMO ini menjadi hal yang menahan investor untuk masuk ke perusahaan-perusahaan batubara.

Harapannya, ketika peraturan DMO ini sudah diteken dan jelas, baru akan terlihat efeknya ke perusahaan-perusahaan batubara, terutama yang berorientasi ekspor.

Jadi begitulah, faktor-faktor yang menyebabkan IHSG hari ini jatuh cukup dalam. Untuk seorang value investor, momen seperti ini justru ditunggu-tunggu karena ada banyak saham-saham bagus yang diobral murah.

Jadi, saatnya untuk menyeleksi saham kembali, bukan?

 

PS: E-book kuartalan rilisan kedua dari BigAlpha sudah keluar. Isinya beberapa saham yang kami anggap undervalue. Anda bisa memperolehnya di sini.

2 Replies to “IHSG Rontok, Rupiah Melemah dan Kebijakan DMO”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *