Potensi Sektor Perkapalan di Tahun 2018.

Ketika harga komoditas (batubara dan minyak mentah) mulai pulih, ada satu sektor yang diproyeksikan akan ikut terkerek kinerjanya di tahun 2018 ini yaitu: Sektor Perkapalan.

Kali ini Big Alpha tidak akan membahas secara spesifik saham-saham perkapalan tertentu, tapi hanya akan menuliskan kenapa saham perkapalan kami anggap prospektif di tahun 2018 ini.

Sebenarnya di sektor ada belasan perusahaan perkapalan, transportasi dan logistik. Namun ada beberapa pemain besar yang lebih sering dibahas seperti Trada Maritime (TRAM), Samudera Indonesia (SMDR), Soechi Lines (SOCI), Buana Listya Tama (BULL), Logindo Samudramakmur (LEAD), dan Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS).

Sebagian besar klien dari perusahaan-perusahaan perkapalan di Indonesia adalah perusahaan-perusahaan komoditas yang bergerak di bidang pertambangan.

Hal ini sangat wajar mengingat lokasi pertambangan perusahaan-perusahaan komoditas, baik itu minyak dan batubara (BUMI dkk), berada di remote area di Indonesia.

Bayangkan jika ada perusahaan migas yang beroperasi di Papua yang ingin memindahkan hasil migas yang sudah ditarik dalam tanah menggunakan pipa. Membangun pipeline infrastructures akan sangat mahal, mengingat jarak dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Oleh karena itu, transportasi kapal laut adalah alternatif yang lebih murah bagi perusahaan-perusahaan komoditas untuk memindahkan inventory mereka ke para pembeli.

Jadi, begitu harga jual komoditas membaik, yang akan mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan komoditas, hal itu juga akan mempengaruhi kinerja industri-industri turunannya, seperti industri alat berat dan perkapalan.

Perusahaan-perusahaan komoditas akan melanjutkan proyek yang tertunda, membangun proyek baru, dan meningkatkan kinerjanya mengingat harga jual komoditas yang lebih baik. Mereka akan membutuhkan support untuk menunjang operasionalnya dari para supplier mereka.

Meskipun ada banyak pertimbangan yang bisa menyebabkan kinerja perusahaan meningkat, Big Alpha akan menuliskan beberapa faktor utama yang kami anggap akan mempengaruhi kinerja emiten-emiten perkapalan di tahun 2018 ini.

  1. Dukungan pemerintah.

Sepertinya kita semua tau kalau salah satu yang paling diingat dari program-program pemerintahaan Jokowi adalah dibentuknya program Tol Laut.

Hal ini tercermin dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, di mana salah satu kebijakan utama pembangunan nasional adalah untuk mempercepat pemerataan pembangunan antar wilayah. Pemerintah memiliki pandangan bahwa ekonomi berbasis kelautan dan sinergi pembangunan kelautan nasional, memiliki peranan yang sangat penting untuk mendukung arah kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, pemerintahan Jokowi menetapkan sasaran terwujudnya Tol Laut sebagai upaya untuk meningkatkan konektivitas laut di Indonesia.

Tentu saja ini menjadi lampu hijau untuk industri perkapalan nasional. Industri ini tentu akan mendapat spotlight dan atensi tinggi dari pemerintah. Pemeritah berupaya agar para pemain di industri perkapalan ini bisa menjadi tulang punggung konektivitas maritim di Indonesia.

  1. Regulasi pemerintah

Dengan adanya perhatian dari pemerintah, tentu bentuk konkritnya adalah serangkaian peraturan dan kebijakan yang melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan perkapalan nasional.

Terakhir, pemerintah mengeluarkan Permendag 82/2017, yang mewajibkan eksportir batubara, minyak sawit atau crude palm oil (CPO), serta importir beras dan barang-barang pengadaan pemerintah lainnya menggunakan jasa angkutan laut serta perasuransian nasional terhitung April 2018 mendatang.

Imbas positif diharapkan untuk perusahaan-perusahaan perkapalan nasional, yang secara keuangan akan berpengaruh positif terhadap perusahaan-perusahaan pengangkut komoditas tersebut.

  1. Membaiknya harga komoditas

Tulang punggung meningkatnya kinerja perusahaan-perusahaan perkapalan tentu saja membaiknya harga jual komoditas seperti batubara dan minyak bumi. Saat artikel ini ditulis, harga acuan batubara Newcastle telah melebihi $100 per metric ton, sedangkan harga minyak dunia terus menanjak mendekati $70 per barrel.

 

Melonjaknya harga jual akan membuat perusahan-perusahaan komoditas semakin ekspansif, dan pada akhirnya berimbas pada kinerja keuangan perusahaan-perusahaan perkapalan yang ada di Indonesia.

***

Ada banyak artikel dan analisis yang membahas sektor perkapalan di luar sana, dan kebanyakan ditulis dengan bahasa yang sulit dimengerti. Artikel-artikel panjang yang dipenuhi istilah-istilah keuangan yang rumit dan membingungkan orang awam.

Kami di Big Alpha berkomitmen untuk terus menjelaskan isu-isu ekonomi yang bisa mempengaruhi pasar modal dengan bahasa sederhana, yang bisa dimengerti bahkan oleh investor pemula sekalipun. Karena kami menyadari, ada gap antara investor pemula dengan informasi pasar modal yang beredar saat ini.

Kami punya mimpi bahwa nantinya semua orang punya akses informasi, berinvestasi dan bisa memperoleh keuntungan di pasar modal Indonesia.

Oleh karena itu kami sudah menyusun e-book kuartalan yang berisikan 20 emiten pilihan yang kami anggap sesuai dengan karakteristik investasi Big Alpha yaitu Value Investing. E-book ini akan mempermudah anda untuk menyaring informasi keuangan emiten-emiten yang ada di bursa yang bisa mempengaruhi keputusan investasi yang akan anda lakukan.

Dan untuk sektor perkapalan sendiri, kami telah memilih 1-2 emiten perkapalan yang kami percaya harga sahamnya mempunyai potensi untuk naik tinggi.

Bisa menebak kira-kira perusahaan yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *