IHSG Jatuh, Gejala Krisis?

Pagi ini semua investor pasar modal di Indonesia dikagetkan dengan jatuhnya index di Wall Street. Dow Jones Industrial Average jatuh lebih dari 1.100 poin atau sekitar 4.6%!

Kejatuhan ini adalah kejatuhan terburuk sejak tahun 2011 akibat krisis ekonomi di Eropa pada waktu itu.

Dan ‘penyakit’ Dow Jones ini pun akhirnya merambat ke bursa-bursa Asia. Bursa Nikkei bahkan ikut jatuh hingga 4%!

IHSG pun terseret turun hampir 2% di Selasa pagi.

Pertanyaan besar semua investor tanah air pun sama: Kenapa?

Hampir semua analis baik dalam maupun luar negeri menyebut bahwa sumber dari semua ini adalah naiknya imbal hasil (yield) dari pasar surat utang (bond market) di Wall Street. Melihat potential return dari surat utang yang lebih tinggi, para investor mulai mempertimbangkan untuk menarik dana dari pasar saham yang lebih berisiko tinggi ke pasar surat utang yang lebih terjamin.

Hal ini sangat wajar mengingat Wall Street terus membukukan rekor setiap hari di bulan Januari lalu. Kondisi yang sebenarnya tidak berdasarkan fundamental melainkan karena tingkat percaya diri para investor yang luar biasa tinggi terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Jadi, Big Alpha menganggap kondisi ini adalah situasi yang sangat wajar.

Pertanyaan berikutnya adalah : Bagaimana dengan Indonesia?

Saran dari kami di Big Alpha adalah : relax and take a deep breath.

Indonesia baik-baik saja.

Pertumbuhan ekonomi masih baik, nilai tukar rupiah masih stabil, inflasi masih terjaga. Semua indikator ekonomi tidak menunjukkan gejala-gejala krisis di dalam negeri.

Tentu, IHSG akan turun jauh mengikuti kondisi pasar di luar sana. Akan terjadi panic selling di bursa karena orang-orang akan mengikuti ketakutan mereka dan segera menjual saham-saham yang mereka punya. Tapi untuk seorang value investor, kondisi kacau seperti inilah yang ditunggu-tunggu.

Akan banyak saham-saham bagus diobral murah karena bursa yang berjatuhan. Tugas kita sebagai value investor adalah menganalisa kemudian memungut saham-saham bagus yang dijual orang-orang.

Di situasi seperti inilah petuah Warren Buffet bisa kita amalkan “We fearful when others greedy, be greedy when others fearful

Pada dasarnya, ketika bursa jatuh saham-saham berkapitalisasi besar (bluechips) akan tumbang duluan, diikuti oleh saham-saham lapis kedua (second liner). Dan pada saat IHSG rebound nanti, situasinya akan sama persis, saham-saham bluechips akan naik duluan kemudian baru saham second liner.

Jadi untuk beberapa hari ke depan, sebaiknya kita cuma bisa menunggu (wait and see), sambil memilah-milah saham mana yang fundamentalnya baik-baik saja, tapi ikut terseret aksi jual besar-besaran ini.

Kapan lagi dapat saham bagus dengan harga diskon?

Jadi, udah tau mau beli saham apa?

PS: Big Alpha sedang menyusun e-book kuartalan yang berisi 20 saham pilihan sesuai kaidah value investing. Jika tertarik, anda bisa memesannya di sini.

3 Replies to “IHSG Jatuh, Gejala Krisis?”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *